Memaknai Hari Ulang Tahun

(Tulisan ini pernah diposting dalam kolom lepas di www.andaluarbiasa.com/tanenji pada tanggal 13 April 2009)

Mendengar kata acara ulang tahun, pasti pikiran akan mengaitkannya dengan pernak-pernik, seperti kue ulang tahun, balon, nyanyi-nyanyi, benda, dan aktivitas penunjang lainnya. Kata ulang tahun juga berarti jatah umur seseorang semakin menipis. Makanya, bertambah umur seseorang pada hakikatnya adalah berkurangnya umur itu sendiri.

Jikalau acara ulang tahun merupakan tonggak sejarah seseorang atau lembaga, mengapa tidak ada atau tidak dibuat momentum ulang jam, ulang hari, juga ulang bulan, ya? Takut dan khawatir membosankan barangkali. Ya, iyalah… masa ulang jam, ulang hari, serta ulang bulan? Seperti kurang pekerjaan saja, barangkali itulah orang menanggapinya bila ada aktivitas seperti itu.

Seumur hidup, seingat saya ulang tahun saya yang ‘diperingati’ adalah ketika berumur 17 tahun. Hal ini karena pola kehidupan masa kecil terlewati di daerah pedesaan dengan gaya hidup agraris, yang lugu dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan di Kabupaten Brebes, Jawa-Tengah. Ketika itu, kebetulan ada acara kumpul-kumpul keluarga besar di rumah orang tua. Makanan dan minuman tersedia dalam jumlah melimpah ruah. Apalagi kebun buah nangka kepunyaan orang tua sedang panen raya. Jadilah ada sedikit ‘pesta’ makan malam dan ‘pesta nangka’ kala itu.

Yang saya undang hanyalah teman-teman SD. Mengapa? Masa SD adalah masa sekolah yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Bisa jadi juga berkesan bagi mayoritas orang, karena sebagian golden age berada pada awal duduk di bangku SD. Di sinilah saya mempunyai teman sepermainan waktu kecil, yang merajut pengalaman manis lainnya, kelak di masa depan. Hal ini karena teman Madrasah Tsanawiyah (SMP-nya Depag) dan Madrasah Aliyah (SMA-nya Depag), terlalu jauh jaraknya. Karena, saya menempuhnya dengan merantau di kota lain, jauh dari rumah orang tua.

Sedangkan pada era menempuh studi perkuliahan dan awal kerja setelah lulus, paling banter perayaannya dilempari telur, terigu, dan shampo oleh sahabat-sahabat dekat. Itulah ucapan, kado, sekaligus party ulang tahun saya. Ini juga tidak kalah mengasyikkan dan membuat kenangan terindah pada fase usia remaja akhir, menjelang usia dewasa awal (meminjam istilah psikologi).

Setelah menikah dan mempunyai anak, saya tidak mempunyai tradisi merayakan ulang tahun bagi anak-anak saya. Tidak ada undangan ke teman-teman ke rumah, tidak ada tiup lilin, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada nyanyi-nyanyi, dan lain-lain. Yang saya lakukan sekadar mengajak anak-anak makan ‘enak’ di luar rumah, katakanlah seperti di restoran cepat saji dengan mengundang satu-dua kerabat atau kawan dekat saya saja. Termasuk ulang tahun saya, istri, juga ulang tahun pernikahan. Tindakan ini merupakan wujud pengganti dari bentuk sikap care terhadap momentum penting dalam sejarah kehidupan yang dialami anggota inti keluarga saya.

Tindakan seperti ini bisa jadi agak aneh bila dibandingkan dengan gaya hidup sebagian besar penduduk di kompleks perumahan sederhana tempat tinggal saya di bilangan Parung, Kabupaten Bogor. Sempat juga keluarga saya menjadi bahan gunjingan para tetangga akibat menganut sikap yang satu ini. Akan tetapi, bila ada dan tersedia waktu serta dana yang mendukung, undangan ulang tahun untuk anak saya dari teman-temannya tetap direspon dengan baik, yaitu dengan menghadiri dan memberi kado hadiah ulang tahun bagi pihak pengundang.

Ya, kita tidak bisa hidup dari sekadar omongan atau komentar orang lain tentang kita. Kita juga harus mempunyai prinsip dalam menjalani kehidupan ini. Yang penting dan perlu ditekankan, bahwa prinsip hidup yang dipegang dan dijalani tidak merugikan pihak mana pun, baik fisik maupun psikis, berbentuk material maupun moral.

Saya sering mendengar ibu-ibu yang mengeluh gara-gara banyak sekali undangan ulang tahun untuk anaknya. Padahal, kondisi keuangan sudah memasuki tanggal tua. Ini jelas dapat merepotkan orang lain. Bila tidak datang, enggak enak. Datang juga harus membawa kado, itu memerlukan uang, dan dapat saja mengambil jatah lain yang lebih penting. Inilah alasan saya sesungguhnya mengapa tidak merayakan ulang tahun anak-anak. Maksud hati untuk kebaikan, tetapi tetap menyisakan ngedumelan dan rasa tidak enak di dalam hati pihak yang diundang.

Padahal jika memungkinkan, manajemen finansial seseorang yang terdesain dengan bagus dan terencana, hampir dapat dipastikan ada slot anggaran untuk biaya menyambung tali silaturahmi. Atau, slot anggaran tersebut bisa dengan nama lain, seperti anggaran tak terduga atau emergency. Katakanlah seperti kondangan, ulang tahun, bantuan orang sakit, iuran agustusan, dan lain-lain. Apalagi yang sifatnya sudah dapat dipastikan adanya, kegiatan rutin bulanan atau tahunan yang diadakan di lingkungan tempat tinggal kita.

Buku karya Safir Senduk, yang berjudul Siapa Bilang Menjadi Karyawan Tidak Bisa Kaya, saya reomendasikan untuk dibaca dan diimplementasikan dalam perencanaan finansial keluarga. Buku itu memberi contoh dan solusi tentang komposisi jumlah sumber penghasilan dan jumlah pengeluaran yang seimbang, sehingga kondisi finansial sehat sepanjang masa, didukung oleh tabungan dan produk investasi.

Tentang kado yang menghabiskan rupiah, ya tidak mesti yang mahal. Pada dasarnya, yang penting niatnya ikhlas tanpa pamrih, yakni bebas dari keinginan mendapatkan sanjungan dan pujian, misalnya. Termasuk aktivitas apa saja, bila dilakukan dengan ikhlas, dengan penuh cinta, maka akan jadi produk atau jasa yang enak dilihat dan dirasakan. Baik oleh diri sendiri maupun pihak lain. The power of ikhlas membuktikan bahwa kehidupan yang penuh dengan keikhlasan akan membuat seseorang dapat meraih kebahagiaan yang sejati –yang menggambarkan kondisi manusia seutuhnya.

Rencana Kehidupan

Ulang tahun hakikatnya adalah tanggal yang sama, yang datang menghampiri lagi pada satu momentum tertentu. Katakanlan tanggal lahir, tanggal pernikahan, tanggal berdiri suatu institusi, atau tempat kerja, dll. Memperingatinya bisa jadi merupakan kebaikan, karena saat tersebut bisa dijadikan sarana introspeksi diri ( Arab, muhasabah). Apa yang sudah diraih dan dicapai dalam kurun waktu tertentu? Sampai ke mana prestasi kita yang sudah teraih? Waktu yang telah diberikan Allah, Tuhan semesta alam, dipergunakan untuk apa saja? Kebaikankah atau kejahatankah? Berkualitaskah tindakan-tindakan kita? Dari sinilah kehidupan seseorang memerlukan perencanaan dalam menata, menatap, dan merenda hari esok demi meraih kesuksesan di masa depan.

Tahun 1996 saya mengikuti Achievment Motivation Training yang diselenggarakan oleh Kanwil Depnaker Propinsi DKI Jakarta. Dalam tarining tersebut, para peserta diminta membuat semacam peta impian atau dream mapping. Apa yang ingin diraih dan dicapai dalam hidup ini? Ketika sudah dibuat apa yang diinginkan, lalu diberi batasan waktu kapan hal itu bisa diraih. Apa kekuatan dan kelemahan yang ada untuk bisa mencapai tujuan. Bagaimana mengatasi dan mengantisipasi kelemahan tersebut. Dari sinilah kemudian terwujud rencana kegiatan tahunan, yang dibreak-down menjadi rencana bulanan, mingguan, dan harian.

Rencana harian dibuat rigid agar bisa dikerjakan dengan mudah dan bermutu. Jarang sekali orang yang tidak sibuk (baca: pengacara, pengangguran banyak acara) dapat merencanakan seluruh aktivitasnya. Kalau dibandingkan dengan orang yang sibuk, bila mempunyai dan ada rencana harian menjadi hal wajar karena mereka berpacu dengan waktu. Pekerjaan mesti diselesaikan atau target harus diraih. Bahkan, pada jabatan level tertentu, ada yang punya seorang sekretaris/ajudan yang siap menjadi pengingat/pemandu kegiatan yang harus dilakukan setiap jam/menit.

Bahkan, saya akan mengajak orang yang sibuk bila ada keperluan. Karena, biasanya orang yang sibuk dapat me-manage waktu dengan baik. Seorang pengangguran, saking banyaknya waktu yang tersedia, biasanya tidak punya rencana apa pun dalam menjalani hidup, dari hari ke hari. Waktu habis tanpa melakukan aktivitas apa pun yang berarti. Dari sinilah mengapa seseorang, apa pun profesinya, apa pun situasi dan kodisinya, memerlukan rencana kegiatan harian.

Dan, dream mapping memungkinkan saya untuk telah, sedang, dan akan meraih apa saja yang sekarang saya jalani, miliki, dan cita-citakan. Tubagus Wahyudi, pakar hipnosis dan public speaking, menyatakan bahwa semesta alam akan merespon apa saja yang kita ucapkan, lakukan, dan kita cita-citakan. Lebih-lebih bila semuanya dalam kondisi tertulis. So, apa saja keinginan kita, tulislah. Hal ini sesuai dan dapat dibenarkan oleh kata-kata orang tua bijak, bahwa kita tidak boleh ngomong sembarangan, takut ada malaikat lewat mengamini apa yang diucapkan. Untuk itulah, kita harus tetap lurus, baik dalam pikiran, ucapan, maupun perbuatan.

Hikmah Ultah Pembelajar.com

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri gathering ulang tahun Pembelajar.com di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat. Mengapa saya diundang dan hadir? Karena bagaimanapun, saya adalah alumni worksop “Menulis Buku Bestseller” yang diselenggarakan oleh Sekolah Penulis Pembelajar (SPP) Pembelajar.com, sekarang namanya Writers Schoolen.

Setelah mengikuti workshop, tulisan-tulisan saya berada dan tercecer di mana saja; lembaran kertas, buku, file di laptop, tanpa pernah diekspos di media cetak maupun elektronik. Saya seperti terantuk, namun kemudian bersemangat kembali ketika dalam gathering tersebut, saya diperkenalkan oleh Pak Hendri Bun dengan Eni Kusuma, yang semangatnya luar biasa itu.

Mantan TKW ini membagikan kisah bagaimana ia belajar menulis artikel di bawah selimut, karena majikannya melarang lampu dihidupkan pada malam hari ketika waktu istirahat tiba (sekitar pukul 23.00 waktu Hongkong). Eni menggunakan lampu senter supaya dapat menerangi kertas yang akan ditulisinya dengan deretan huruf demi huruf, representasi dari ide-ide yang telah berkecamuk dalam pikirannya sepanjang hari. Ia mengetik dan mem-posting tulisan-tulisannya melalui internet gartis di mal, museum, atau kantor pos di Hongkong, pada akhir pekan atau masa libur yang diberikan majikannya. Tulisan-tulisannya mengerucut, mencuat, dan menjelma menjadi sebuah buku berkategori bestseller dengan judul Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Di forum gathering Pembelajar.com itu pula, saya berkenalan dengan salah seorang peserta. Ternyata ia adalah Sulmin Gumiri, seorang guru besar sebuah universitas negeri di Kalimantan, yang menyelesaikan studi S-2 di Inggris dan S-3 di Jepang. Ia luar biasa ramah dan low profile, di luar semangatnya yang membara terhadap dunia tulis-menulis. Kini, ia telah menjadi kolumnis tetap situs Andaluarbiasa.com.

Kemudian, awal Maret 2009 saya diberi tugas mengikuti acara Training of Trainer atau pendidikan dan pelatihan untuk calon pelatih diklat calon kepala sekolah dan calon pengawas, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional RI, di Hotel Millennium, Jakarta Pusat. Kebijakan dan regulasi sekarang ini, semua hal di dalam dunia pendidikan formal di Indonesia akan tersertifikatkan, karena telah mempunyai aturan main standarnya.

Guru dan dosen telah terlebih dahulu mengikuti dan menjalani proses sertifikasi, seiring dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Termasuk jabatan kepala sekolah dan pengawas sekolah akan disertifikasi melalui pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah. Nah, saya dan ratusan peserta lainnya, selama lebih kurang sepuluh hari dididik dan dilatih untuk menjadi pengisi atau fasilitator pada acara pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah tersebut, melalui rangkaian panjang kegiatan pascadiklat ini.

Pada hari Jumat pagi, 13 Maret 2009, ketika memasuki restoran hotel untuk acara breakfast, secara surprise saya bertemu lagi dengan Sulmin Gumiri. Rupanya, ia sedang mengikuti sebuah acara di hotel yang sama. Akhirnya, kami duduk bersama dan mengobrol secara serius, ngalor-ngidul. Kami serentak bersepakat mengatakan, bahwa dunia ini memang ternyata sempit. Saya yang tinggal di Bogor, bisa bertemu lagi dengan kenalan baru pada acara Pembelajar.com. Ia menimpali, bahwa dunia ini memang sempit, makanya jangan macam-macam. Bisa jadi, ia mengemukakannya dalam tanda kutip. Untungnya, kami sedang dalam acara yang baik, bagus, berkualitas, dan semoga tetap konsisten serta berkomitmen dengan integritas nilai dan moral, sehingga tidak terjerumus dengan hal-hal yang “macam-macam”.

Beliau bercerita bahwa bila merasa dunia ini sempit, mestinya seseorang akan berbuat baik kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Karena baginya, orang jahat dan orang baik ada di mana-mana, dapat melintasi suku, ras, kebangsaan, profesi, bahkan agama. Ia mempunyai teman semasa mengambil S-2 di Inggris yang berkebangsaan Israel. Mereka tidak bisa saling mengunjungi karena perbedaan politik masing-masing negara.

Apa pun yang terjadi dengan dunia perpolitikan negara, mereka tetap berkawan baik hingga sampai sekarang. Dan, tulisan ini tidak membahas pernak-pernik perpolitikan, apalagi yang bersentuhan dengan negara yang berada di kawasan Timur Tengah, yang berjulukan negeri zionis ini, yang sepanjang sejarahnya berkonflik ria dengan penduduk Palestina.

Yang jelas impact dari sebuah acara ulang tahun telah membuat saya menjadi bersemangat kembali untuk menulis dan menulis, sampai kapan pun. Menulis apa saja yang saya tahu, apa saja yang saya lakukan, dan apa saja yang saya alami, sebagaimana telah disarankan oleh J.K. Rowling, penulis serial buku bestseller Harry Potter, sebagaimana juga Ali bin Abi Thalib mengatakannya, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Bisa jadi, hal inilah yang menginspirasi Hernowo menulis buku Mengikat Makna, buku yang perlu dibaca bagi mereka yang berkeinginan menjadi penulis pemula, atau meningkatkan kapasitas kepenulisannya. Ya, menulis—yang berarti juga mengarang—yang oleh Andrias Harefa tujuannya dapat dikelompokkan dalam empat kategori. Pertama, tujuan yang bersifat nafkah-finansial (ekonomis). Kedua, tujuan yang bersifat pernyataan diri (psikologis). Ketiga, tujuan yang bersifat sosial-emosional (sosiologis). Keempat, tujuan yang bersifat moral-spiritual (teologis). Dan, saya akan segara mewujudkan dan memenuhi tujuan-tujuan menulis dan mengarang tersebut. Semoga.[tan]

KETARBIYAHAN

KETARBIYAHAN[1]

Oleh: Tanenji

1. Ini adalah bukan forum mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan atau Filsafat Pendidikan, tetapi sebuah muatan lokal pada sebuah proses pengkaderan di tubuh HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Ciputat (selanjutnya disebut Komtar), simbol kreatifitas pengurus dan segenap aktifisnya agar para kader tidak keder, apalagi keblinger, juga agar para kader mengakar pada sejarahnya, menghindari konotasi menjadi kader jenggot.

Tentang kreatifitas ada beberapa pendapat yang mungkin bisa dijadikan rujukan:

a. Dalam proses kreatifitas ada tawaran tips dari Andrias Harefa[2] dengan 3 N, yakni: Niteni, Niro’ke, dan Nambahi. Sebagai sebuah ilustrasi dapat dilihat dari:

- perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga dengan:

- apa yang terjadi pada bangsa Jepang dan Cina dalam mengembangkannya.

b. Haidar Bagir pernah mengemukakan seseorang harus keluar dari comfort zone agar dalam proses kreatifnya suskes dalam pengembangannya.

c. Secara umum proses kreatif manusia perkembangannya bersifat optimal, bukan maksimal seperti yang terjadi pada hewan.

2. Seandainya Ketarbiyahan dipahami sebagai sesuatu yang berkenaan dengan Tarbiyah (baca: FITK UIN Jakarta) fakultas kita, mungkin yang paling berhak berbicara untuk dan atas namanya adalah Sang Dekan atau segenap jajarannya yang ditunjuk atau yang mewakilinya. Meminjam istilah dalam regulasi dunia ke-tata-tenaga-kerja-an yakni melu handarbeni, kita semua adalah bagian integral dari dan sekaligus pemilik FITK. So, tidak ada persoalan yang signifikan tentang FITK yang mesti diceramahin.

3. Tentang kekomtaran –apa, bagaimana, dan mengapanya– lagi-lagi yang paling memungkinkan membicarakannya dengan fasih adalah Ketua Komtar saat ini, atau paling tidak mantan Ketua Komtar. Atau Anda sendiri sebagai pelaku/saksi sejarah[3] Komtar. Tetapi yang jelas sangat diharapkan sekali bukan sebagai penonton sejarah, apalagi beban sejarah, dan tentunya jangan sampai malu-maluin[4] sejarah.

Atau Anda mau mendengar cerita tentang Komtar pada zaman saya? Yang jelas ada sebuah baju ‘kebangsaan’ dari tahun 1994an yang masih terawat sampai sekarang karena menyimpan selaksa peristiwa, yang setia menemani jejak langkah saya di Ciputat, juga di Komtar.

4. Atau sesi ini kita bagi saja dengan 3 pertanyaan mendasar:

a. Sebenarnya apa alasannya mengapa Anda menjadi mahasiswa Tarbiyah?

· Apakah Anda terpaksa, dipaksa, atau memaksakan diri?

b. Mengapa Anda ‘terjebak’ masuk HMI (baca: Komtar) dengan mengikuti LK ini?

· Apakah Anda ingin masuk surga?

· Apakah Anda menginginkan seperti tokoh-tokoh hebat HMI sepanjang sejarahnya?

· Atau mengikuti LK tanpa alasan apa pun?

c. Bagaimana Anda merajut masa depan di Tarbiyah bersama Komtar?

· Sebagai seorang aktifis Anda harus memperjuangkan 3-er (bener, pinter, dan kober), dan 3-ir (pikir, zikir, dan ukir).

· Konflik dan hambatan bukanlah sesuatu yang harus dihindarkan, bahkan eksistensinya seringkali diperlukan dalam rangka dinamika organisasi, makanya dibutuhkan manajemen konflik.[5]

· “Hidup-hidupkanlah Komtar, tetapi jangan mencari kehidupan di Komtar”[6].

· “Jangan tanya apa yang bisa Komtar berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang bisa engkau berikan kepada Komtar-mu”[7].

· Pernah ada laporan hasil penelitian pada era 90-an yang menyatakan bahwa 80% wartawan di Jawa Timur adalah alumni IAIN. Hal ini dikarenakan kemampuan reflective thinking alumni IAIN yang memadai. Kemampuan ini jelas bukan diperoleh secara taken for granted, tapi perlu diupayakan dengan seksama. HMI adalah salah satu wadah yang memungkinkan pengembangan ke arah hal tersebut.

Wallahu a’lam.

yakin usaha sampai


SEKEDAR PERTANYAAN

1. Apa sajakah manfaat hp?

2. Pangeran Diponegoro meninggal di ……………………………………………..

3. Di sebuah negeri ada seorang raja yang gagah perkasa. Sang raja mempunyai seorang anak lak-laki yang rupawan. Menjelang ulang tahun anaknya yang ke-6 sang raja wafat. Kemudian anaknya menjadi ……………………………………………….

4. Buatlah sebuah pertanyaan tentang komputer laptop!

5. Buatlah 4 garis tanpa putus yang dapat mengenai 9 titik yang berbentuk angka 0 berikut ini:

0

0

0

0

0

0

0

0

0

6. Gambarlah sebuah pemandangan!


SAYA ADALAH SEORANG GURU

(Sebuah Renungan)

Lengkapilah kalimat-kalimat berikut tentang diri Anda, tulislah bila Anda mempunyai jawaban untuk dikatakan, jika tidak, biarkan kosong!

1. Saya adalah seorang guru, karena:

2. Hal-hal yang saya sukai menjadi seorang guru antara lain:

3. Hal-hal yang tidak saya sukai menjadi seorang guru antara lain:

4. Kualifikasi utama yang saya miliki untuk menjadi seorang guru adalah:

5. Menurut saya peranan utama seorang guru adalah:

6. Sebagai seorang guru, saya menyukai siswa yang:

7. Di mata siswa, saya adalah seorang guru yang:

8. Setelah selesai mengajar, saya biasanya merasa:

9. Dalam pandangan saya, mengajar adalah profesi yang:

10. Jika nantinya tidak menjadi seorang guru, saya akan menjadi:

11. Menurut saya, peranan HMI Komisariat Tarbiyah dalam membantu mewujudkan cita-cita saya adalah:


[1]Sekadar pengantar pada pembahasan materi “Ketarbiyahan” LK 1 HMI Komisariat Tarbiyah (Komtar) Cabang Ciputat Jum’at, 9 Juni 2006 di Bogor.

[2]Lebih lanjut lihat buku Agar Mengarang Menjadi Mudah.

[3]Pada waktu menjelang Presiden Soeharto lengser keprabon, diawali dengan berbagai krisis, ia mengundang tokoh-tokoh nasional untuk diminta pendapatnya. Salah seorang tokoh yang diundang yakni Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum wakil dari organisasi kepemudaan.

[4]Masih ingat film ‘Naga Bonar’ yang dibintangi Deddy Mizwar? Dalam sebuah dialognya disebutkan,’Apa kata dunia nanti hah? Masa ada pangkat Sersan Jenderal?’

[5]Ingat dan bandingkan dengan teori gigit ular.

[6]Adaptasi dari pernyataan KH Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, tetapi jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah”.

[7]Adaptasi dari pernyataan salah seorang Presiden AS: “Jangan tanya apa yang bisa negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang bisa engkau berikan kepada negaramu”[7].

JALAN RUSAK

Di Kecamatan Parung Kabuptaen Bogor banyak jalan yang rusak parah. Selama 7 tahun tinggal di sana saya merasakan selama itu yang rusak adalah bagian jalan yang sama, yang kemudian diperbaiki dengan tambal sulam. Nah berarti kan ada yang salah dengan cara memperbaiki jalan tersebut. Pertama yang jelas yang jadi persoalan adalah tidak adanya saluran air alias got yang representatif untuk menampung derasnya air hujan, juga air hasil buangan limbah domestik. Mestinya sebelum jalan diperbaiki, perbaikilah saluran air terlebih dahulu. Sebenarnya pasalnya sederhana. Hukum air dari jaman Nabi Adam sampai Adam Malik, bahkan Adam Jordan, dan selamanya menyatakan air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Nah, ciptakan saluran air yang memadai sesuai dengan hukum alam tersebut. Setelah saluran air diperbaiki, baru perbaiki jalan yang rusak dengan catatan jangan pura-pura memperbaikinya. Aspal sesuai plafon, jangan dikorupsi. Saya yakin jalan akan awet dan uang hasil pajak rakyat tidak sia-sia dihambur-hamburkan oleh hanya kepentingan proyek formalitas semata. Semoga.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.